REALITA MENJADI (WANITA) SINGLE

Rabu, Juni 27, 2018

REALITY OF BEING SINGLE

Well. Nulisnya aja, kayak yakin ga yakin.. Iya ga ya gw nulis soal beginian, terlalu pribadi sebenernya. Tapi, ternyata bukan saya saja kok, tulisan ini adalah hasil rangkuman dari hasil bertukar pikiran dengan beberapa orang rekan saya, yang memiliki kasus yang sama, hehe. So, di tulisan ini bukan sepenuhnya pendapat saya ya, ada masukan dari temen-temen juga.

Iya, saya single. Saat menulis ini saya sedang berusia 26 tahun. Perempuan cantik, berpenampilan baik, cukup untuk dibilang cerdas dan tentu saja mapan (considered as- punya pekerjaan yang baik dan halal), tapi ini yang bilang bukan saya, ini temen-temen dan keluarga saya. Hanya ada dua kemungkinan untuk itu : bahwa saya memang benar seperti yang mereka katakan atau hanya demi kesopanan untuk menghibur saya yang hingga saat ini masih sendirian. Haha, whateverlah, but I love my self.

Ini momen lebaran dan selalu jadi badai pertanyaan : kapan nikah? kapan punya anak? kapan bikin adek? Dst. Banyak sebenernya, tapi sepertinya kualifikasi saya baru sampai di pertanyaan pertama, itupun ga lulus-lulus sampai sekarang, rasanya sudah satu dekade menghadapi pertanyaan yang sama.

Menjadi wanita single memang selalu ada-ada ceritanya, kalian gimana? Pasti kan ngerasain juga entah itu single karena takdir atau emang pilihan atau ya memang keduanya, kebetulan pilihan ama takdir lagi akur, jadi sama. Nah, setelah kurang lebih satu dekade dihadapkan pada pertanyaan itu, yang sekarang sebenarnya sudah naik satu level, bukan lagi pertanyaan tapi  dalam bentuk perintah dari keluarga “Buru! Cepetan nikah woy! Emak Bapak lu udah pengen nimang cucu!” dan berbagai macam intimidasi yang lain entah itu sarkas atau satire-satire lainnya. Mereka itu punya baanyak sekali alasan dan celah untuk menyuruhmu menikah, sementara kamu sendiri mungkin belum ketemu alasannya, *atau jodohnya ^ahelah.

Tapi beruntungnya.. bahwa hal-hal semacam itu bukan datang dari orang tua sendiri, tapi saudara-saudara atau kerabat, entah demi basa-basi atau kesopanan untuk tetap bertegur sapa dengan pertanyaan standar sesuai norma yang biasanya, atau karena kepo saja, atau yaa, karena mau ngebully aja. Haha, untungnya keluarga inti paham ya. Bahwa putrinya hanya ingin hidup dengan baik, bukan terikat oleh omongan orang, dan yang dekat denganmu pasti juga dapat mengerti dengan baik, memahami maksudmu, mengertikan bahwa masih banyak yang ingin kamu tuju.

Nah, sekarang saya mau sharing sedikit mengenai beberapa hal yang saya rasakan dalam realitia menjadi single, sebenernya sih biasa aja, tapi kayaknya seru juga nih dirangkum dan lumayan bisa jadi bahan tulisan, hhaha. Eh sebelumnya, ini ada tulisan dari temen saya, you can say hi to her (@fibhri), she’s a very friendly person and she wrote me this:

“For everybody who said that feni should get married, SHAME ON YOU! Your life’s timeline is yours, you dont need to listen to their boring opinion about their imagination of happy life (aka. getting married). You write your own story girl! Dont let people decide and define you. Do whatever the F you want as long as you are happy. World is a very awesome place. Or come here, free sofa for you. haha. ”


Yahh, begitulah kalau Mbak Fibri sudah berbicara, haha. Frontal, tapi pendapatnya hampir selalu benar. A reflection of true smart, cheerful, pretty, loving, brave, intelligent and independent lady. But she’s now in Canada, I do miss her a lot. Anw, kalian jangan tersinggung ya, apalagi yang ikut komen nyuruh saya nikah, it’s all okay guys. I am fine and thanks for your du’a!

Nah, sekarang saya mau share beberapa poin tentang realita menjadi seorang wanita single, well, setidaknya beberapa hal berikut ini saya rasakan, tapi juga ditambah dari hasil perbincangan sama temen-temen sih, yang wanita single ya.

  •         Orang-orang menganggap kamu terlalu keras dan pemilih
Keras, susah dikandani. Susah dicedaki. Susah kalau mau ada orang yang mau deket kalau kitanya terlalu keras. Begitu kata orang. Dan akhirnya bermuara pada statement bahwa kita itu terlalu pemilih. Tidak mau mencoba mengenal yang datang, kebanyakan kriteria, banyak milih-milih, tapi gak ketemu-ketemu. Padahal, mereka ga tau aja gimana perjuangan kami ya Allah :(

Well, tapi saya rasa wajar saja kalau seorang wanita itu berusaha memilih. Termasuk tentang mana yang ingin dikenali. Wanita-wanita single ini, memiliki berbagai macam latar belakang yang menyebabkan dia masih sendiri sampai sekarang. Bisa jadi, dia mengalami hal yang pahit sebelumnya, bisa jadi dia pernah gagal dalam suatu hubungan, bisa jadi dia trauma, atau bisa jadi dia melihat teman-teman atau saudaranya yang ternyata harus gagal dalam membina rumah tangga hingga berakhir pisah.. Dan wanita itu hanya ingin lebih berhati-hati dan waspada, tidak ingin kesalahan yang sama terjadi pada dirinya. Itu saja, apa salah? Selain itu, tentu saja mereka punya pertimbangan sendiri, tergantung masing-masing, bukan berarti mereka keras ya.

  •       Suka dapet badai pertanyaan yang diikuti dengan nasehat-nasehat yang panjang

Nah ini dia, biasanya banyak di momen-momen lebaran, natal atau tahun baru, atau udah ga pakai momen-momenan, langsung aja tiap ketemu ditanya : “Kapan nikah? Kapan mau berkeluarga? ” Atau kalau teman sebaya yang notabene agak deket, pertanyaannya bisa berupa “Kapan sih lu mau berhenti sejenak dari mimpi-mimpi lu dan memulai kehidupan baru? ” dan semacam itu. Atau ya gapake tanya, tapi udah langsung disuruh “Ndang nikah, Nduk. Mamak wes pengen ngudang putu.” – red : cepatlah menikah nak, Ibu sudah ingin menimang cucu.

Kalau saya pribadi, selalu jawab dengan satu kalimat pamungkas “Doanya nggih ,Pak/Bu/Mbah/Bulek/Paklek/Pakdhe/Budhe/..dst” Nah tepat kemudian setelah itu, maka akan muncul nasehat-nasihat panjang dari mereka. Tentang jodoh, tentang pernikahan, tentang keluarga, tenang anak-anak, dan berbagai nasihat-nasihat yang intinya tetap saja sama: menyuruh kamu agar cepat berkeluarga. Menasihatimu agar tidak terlalu pemilih. Jangan keras kepala, jangan terlalu tinggi standarnya. Jangan gini, jangan gitu.. Makanya gini, makanya gitu.. Dan itu bener-benar buanyaaak sekali, hahaa. Padahal yo standar opo sih? Cuma ingin ditemukan oleh seseorang yang benar-benar cocok dan bikin nyaman, salah? :( 

Ehmm, untuk poin ini mungkin saya akan agak sedikit serius.. Hemm, *hela napas panjang soalnya tulisannya juga bakal puanjang~

Well, satu hal yang pengen banget saya komentari, tentang jangan terlalu tinggi kriterianya.. Well, setiap orang punya kriteria dan itu sah-sah saja, dan tiap orang kan beda kriterianya, saya yakin kaum Adam juga pasti punya kriteria sendiri tentang calon pasangannya, iya ga? Nah, kan kita yang tau kualitas dan kapasitas diri kita masing-masing, jadi wajar kan kita mencari seseorang yang kiranya bisa berjalan bersama dengan kita? Tidak ada kriteria yang terlalu tinggi, asal tau kapasitas diri sendiri. Jangan pakai asas – kalau udah cinta, tidak memandang kriteria – itu exceptional ya, saya disini rasional  dan logis aja. 

Wanita single itu berusaha sebaik mungkin untuk menjadi versi terbaik dari dirinya, ia mengedukasi dirinya sendiri, ia belajar, feeding herself with knowledge, terus berusaha berkembang dan memantaskan diri.. Tidak mudah baginya untuk mengenal seseorang yang mungkin juga prinsip dan pandangannya jauh beda, so? Mau dipaksain? Kan engga. Wanita ini tu bukan wanita menye-menye yang hobbynya galau sana sini, fota-foto selfie dan posting foto-foto nangis. 

And finally, I’ll say this (again) Jangan menurunkan kualitas diri kita untuk mendapatkan pasangan, karena merasa sulit menemukan yang setara atau yang diatas kita. Ada, cuma belum dipertemukan aja. Yang benar mencintaimu akan berusaha dan menemukan cara untuk dapat setara denganmu atau paling tidak bisa mengimbangimu, sehingga kalian bisa berjalan berdampingan. Kalau tidak benar-benar setara, setidaknya ada hal yang sama diperjuangkan oleh orang itu denganmu. Dia mungkin tidak gilang gemilang karirnya, tapi ia adalah pekerja keras dan pantang menyerah dalam berusaha, seperti kamu yang tipe pejuang, misalnya. Ia tak kalah berusaha dan berjuang sampai titik akhir untuk mengejar sesuatu, seperti kamu. Yah, keceplosan deh nyebutin clue-nya, iya, emang wanita kadang luluh karena liat perjuangan seseorang. Setiap wanita ingin diperjuangkan, dan setiap lelaki ingin ditunggu, bukankah memang  begitu adanya?

Dan saya sangat percaya itu. Kenapa? Karena saya pernah mencoba mencoba memaklumi-memahami dan ngelus-ngelus dodo, wes ora po po kalau dia blablabla yang penting kita masih bareng, yang penting saya masih punya dia. Nyatanya cuma makan makan hati while he keeps saying things likewawasanmu lebih luas dari aku, penghasilanmu lebih dari aku, kamu lebih berani dari aku, sedangkan aku penakut and so on..” Even though I’ve tried so many things to lift him up. Start a discussion, give him the book I’ve read, be with him to get a better job.. But relationship doesn’t work that way. And the hardest part is, our relationship end up with betrayal, he cheated on me and find another woman, ya jelas, hit me sooo deep. Sakit memang, tapi toh saya sudah berusaha dan bangkit. Nah, sebaiknya sekufu, kalo Ustadz bilang. And I think it’s so true. Now, I’m just like wanna find a person who I really like and I feel comfort.

  •       Kadang juga dapet banyak sanjungan atau hanya njembarke ati
Nah, kadang juga saya sering mendengar sanjungan dan puja-puji dari orang-orang, seperti yang sempat saya katakana di awal tulisan. “Kamu kan pinter, kamu kan mandiri, udah mapan pula.. Pasti banyak cowok yang mau" entah karena yang dibicarakan memang begitu, atau cuma njembarke ati aja karena yang diajak bicara masih juga sendiri. Keduanya, it’s okay. Kalau ada yang bilang begitu, saya aamiin-kan saja seraya berusaha untuk jadi lebih baik mungkin, syukur-syukur kalo bisa jadi bener-bener seperti yang mereka katakan. Ndak ada salahnya, kan? Aamiin.


  •  Suka dikenal-kenalin atau dijodoh-jodohin sama orang
Hemm, ini juga banyaak banget. Ngga sodara-sodara, temen-temen mulai dari temen SD sampe temen kerja, pasti begini. Aku kenalin temenku ya, mau ketemu sama temenku ga, atau Dek, abang punya temen nih, serius mau nyari istri dan bla..bla..bla.. Bukannya menutup diri ya, kadang ada kalanya wanita ini mau kok berkenalan, apa salahnya? Siapa tau emang jodoh, tapi ya balik lagi ke penjelasan yang terlalu panjang lebar sebelumnya, tidak semudah-segampang-dan-sengasal itu. Wanita ini punya banyak pertimbangan sendiri dalam kepalanya, it's hard to be easy.


  •  Sasaran empuk kena bully
Jangan ditanyaaa, dalam lingkungan manapun yang single emang paling gampang kena bully. Truk aja gandengan, masa kamu engga? Entah dibecandain, atau sampe dibikin meme dan di posting di berbagai social media sebagai pencari jodoh, pernah wkwk. Kadang, ada yang menanggapinya sebagai sesuatu hal yang bikin risih. Ada juga yang menganggapnya santai, toh hanya bercandaan saja.


  • Dicemburui sama pasangan teman atau rekan kerja kita.
Entah pacar atau istrinya, hanya karena kami wanita single and somehow, it makes them insecure. Meski saya masih ga habis pikir sih soal yang ini. Hanya karena gw single bukan berarti gw mau ngedeketin/dideketin sembarang laki juga keleeuus~ Apalagi yang udah punya pacar atau istri. Aneh aja, bagaimana kita membuat mereka insecure? Sedangkan kita hanya teman atau rekan kerja biasa. Tidak lebih. Hanya karena kami sering main rame-rame atau ada bukti transferan rutin tiap bulan (-yang sebenernya cuma bayar utang) bukan berarti kami perlu dicemburui juga, please, we have nothing to do with your man! Karena kami tahu, hal itu sama sekali tidak ada untungya.

Wanita single macam ini nggak akan mau dideketin/ngedeketin pria yang udah ada yang punya, no way, it’s not even our type. Please, concern! Tapi, mungkin mereka merasa wanita single ini lebih menyenangkan (kali), dan lebih nyambung kalau ngobrol sama pasangan mereka. So, i'm saying this again, educate yourself is very important thing, ladies! But once again, wanita yang mandiri dan pintar, tidak akan merendahkan dirinya hanya untuk mendekati pria yang sudah memiliki pasangan. NEVER!

Nah, saya rasa beberapa poin diatas sudah cukup mewakili apa yang dirasakan para wanita dewasa yang masih single sampai sekarang. Sementara itu, di satu sisi yang lain, ada hal-hal yang sesungguhnya dirasakan oleh wanita single dan berbagai kesulitannya, berusaha mengisi waktu dengan hal-hal ini itu, heuu~
  • Focus megembangkan kemampuan agar dapat menjadi pribadi yang lebih baik. Ini adalah jawaban paling pertama dari mereka. And it’s super true. Wanita ini sibuk memperbaiki diri, mencoba menjadi versi terbaik dari diri mereka. Mereka belajar, banyak membaca, intinya meningkatkan kualitas diri mereka. Tentu saja, mereka juga ingin mendapat jodoh yang baik kan? Dan katanya jodoh itu cerminan dari diri kita. So, sudah sewajarnya manusia itu terus memperbaiki dirinya.

  • Menjadi achiever. Tujuan dan goal mereka bukan cuma tulisan atau coretan tangan. Bukan cuma mimpi, tapi perlu direalisasi. Mereka ga akan ragu untuk itu, mendetailkan goalnya. Ingin melanjutkan S2 ya kuliah, kalau ingin pintar ya belajar masak, belajar ngerajut, bisa bela diri, menguasai bahasa asing atau ingin menanjak dalam karir ya mereka akan memikirkan cara untuk dapat meraihnya. Apa yang menjadi goal mereka, akan mereka tekuni. Mereka benar-benar into it. Seriously.

  • Terkadang terlalu self-centered. Seperti yang udah dijabarkan dari tadi. Ya, Namanya juga sendiri, jadi terkadang terkesan egois dan mementingkan diri sendiri. Urusan sendiri disini tidak hanya melulu tentang sebagai individu ya, bisa jadi urusannya itu ya dirinya, bisa juga keluarganya. Tapi, ya, kadang memang jadi terlalu mengutamakan pengembangan diri sendiri, dan kadang tidak begitu berinteraksi dengan society. Tapi jangan sampai ga ngeh kalo pas jodohnya lagi datang yaa, wkwk.
  • Semakin kita meningkatkan kapasitas diri, itu bebanding lurus juga dengan kriteria calon pasangan yang makin ribet. Bukan secara fisik ya, lebih ke pikiran, padangan, prinsip dan pengetahuan seseorang, baik dalam akademis maupun emosi. Bagaimana dia mengerjakan sesuatu, sampai dengan bagaimana dia menyelesaikan suatu masalah yang timbul dalam kehidupan orang itu, mengenai bagaimana dia bersikap dan bagaimana dia menanggapi situasi tertentu, apa yang dia pikirkan dan apa yang ia bisa lakukan? Semua akan jadi pertimbangan bagi si wanita single ini;  Bukan karena pengen yang muluk-muluk, tapi karena lebih ingin berhati-hati supaya kesalahan yang sama tidak terulang lagi. Itu kata temen saya, sudah saya jabarkan panjang lebar kan? Ada berbagai sebab seseorang itu masih memilih sendiri seperti sekarang. Maka ia memilih menunggu yang benar-benar tepat sambil terus belajar dan mengembangkan diri. But at the end of the day, kami cuma ingin yang somehow, dan entah bagaimana bisa fit in dengan diri kita. *gatau jelasinnya gimana

  • Mandiri dan bahagia. They are. Karena kebahagiaan mereka enggak bergantung kepada orang lain.
  • Kadang merasa kesepian, tidak bisa dipungkiri. Wanita-wanita jenis ini masihlah manusia biasa. Fitrah. Heuhhueuhue

But guys, apapun pikiran orang, apapun yang kita rasakan, meski kadang kita seringkali masa bodoh atau apapun, yaudahlah biarin aja. They just don’t know how much we pray, mereka juga gatau seberapa usaha yang telah kita lakukan untuk mendapat jodoh itu. And I think, they don't need to know. Cukup simpan dalam diri sendiri aja dan tetap ikhtiar. Jangan lupa ora et labora, berdoa dan berusaha. Berdoa supaya ditunjukkan jodoh yang barokah, berusaha memantaskan diri lebih baik lagi aja. Pesan untuk semua wanita yang lagi baca ini, Kalian semua deserve the best!


You're beautiful just the way you are. You're smart, you're precious, you're worth and you deserve to be happy! So, learn as much as you want, feed yourself with knowledge, go travel or do whatever you want and just BE HAPPY!

Nah untuk melengkapi tulisan saya diatas, saya juga sempet berbincang-bincang sama teman-teman yang masih memilih single juga sampai sekarang, Wkwkw…

“Kadang orang mengira aku terlalu keras, padahal tidak begitu. Orang tidak tau apa yang sesungguhnya kita rasakan. Aku hanya berhati-hati dan waspada. Berkeluarga bukanlah keputusan sederhana.” H.P – Technical Writer and Application Tester

“Biasa aja. Ya kadang orang suka nanya, emang mau nyari yang gimana lagi? Emang mau nunggu apa lagi? Kan udah mapan juga. Tapi aku biasa aja. Buatku bukan pertanyaan, paling cuma komentar aja, jadi gak tak jawab.” K.K.P – surveyor at BPS

“Menjadi wanita independent itu menyenangkan, tanpa bergantung ke orang lain kita bisa melakukan hal apapun sendiri. Ngga terpaku dengan adanya orang lain. Aku sedang focus pada karir dan Pendidikan. Untuk mencari pasangan yaa, must better than me (in some case). Exm : age, thinking, salary, intelligent.” D.S.B – Data Scientist, student for Master Degree.

"Karena yang mau dibangun itu rumah tangga bukan rumah makan sederhana, jadi ngelakuin ga segampang kelihatannya. Mungkin orang yang ga kenal deket kesannya kaya jual mahal dan banyak maunya tapi sebagai cewek kita punya banyak pemikiran dan petimbangannya" S.K.A - Pharmacist

You Might Also Like

0 comments

mari meninggalkan jejak :)

Instagram

Subscribe