[REVIEW BUKU] BUMI MANUSIA

Rabu, September 13, 2017


Sebenarnya, saya masih tergolong bukan pecandu buku. Saya tidak memiliki begitu banyak buku, hanya sekitar puluhan. Membaca buku  juga kadang-kadang, kalau sempat, jenis buku favorit saya adalah : novel. sastra. romance. XD Blas ga ada kaitannya sama kerjaan, tapi tiap hari bacain stackoverflow berjam-jam wk.


Kebetulan, saya sedang membaca tetralogi Bumi Manusia. Sekarang sampai buku ke tiga, Jejak Langkah.
Awalnya memang sempat bosan, ketika membaca Bumi Manusia, mungkin belum terbiasa. Tapi lama-kelamaan, halaman demi halaman saya pahami alurnya dan mulai tenggelam dalam ceritanya. Ini novel semi-sejarah, mengajak saya berkelana dengan setting akhir 1800an, awal 1900. 
Mas Pram (begitu beliau biasa disebut, itupun berdasarkan apa yang saya baca di beberapa ulasan) mampu menjabarkan keadaan saat itu dengan sangat detail, sangat luas, dari sisi lain yang belum pernah saya tahu. Sisi selain di buku-buku pelajaran sejarah. Bagaimana belanda dan hukum belanda memperlakukan pribumi. Bagaimana pribumi diperlakukan seperti tidak mengerti akan hak-haknya sendiri. 
Memasuki Anak Semua Bangsa, saya makin terlena. Ini buku tercepat dari tetralogi ini yang saya selesai dalam membacanya, kurang dari seminggu (bumi manusia hampir sebulan). Ditengah-tengah pekerjaan, kuliah dan ngaji. Bagaimana si Minke, tokoh utama, yang dibilang tidak kenal bangsanya sendiri, oleh Jan Marais (sabahatnya, pelukis) dan seorang lain yang berprofesi sebagai jurnalis, yang lebih banyak menulis dalam bahasa Melayu, agar dapat dibaca dan dipahami oleh para pribumi, sementara Minke, selalu menulis dalam bahasa Belanda. Tak pernah menulis Melayu apalagi Jawa, ia malu. Belanda menjadi suatu keagungan sendiri baginya, tak terbantahkan. Segala ilmu pengetahuan dan pendidikan datang daripadanya, Belanda. Namun pada Anak Semua Bangsa, Minke mulai mencoba mengenal bangsanya sendiri. Melalui keluarga petani Trunodongso, yang tidak mendapatkan hak-haknya, tanah yang disewakan secara paksa dengan upah yang tidak sebanding, bahkan kejadian pemberontakan yang menewaskan banyak petani. 
Di buku ketiga, Jejak Langkah. Menceritakan petualangan Minke ke Betawi, bersekolah dokter. Disini pula ia mulai mengenal kaum liberal Belanda, bahkan diajak dalam pertemuan agung itu. Disini pula, Minke bertemu dengan Mei, wanita tiong hoa yang memasuki Hindia dengan Angkatan Muda Tiongkok. Saya baru sampai sini, baru sampai cerita dimana Minke mulai belajar mengenai etnis Tiong Hoa. Dan, dalam buku ini juga ada penggalan cerita yang berkisah tentang pertemuan tokoh utama dengan Kartini, ya, Raden Ajeng Kartini pada masanya. Tentu saja Fiksi. Tapi saya dapat melihat beliau juga sangat mendukung kesetaraan dan tidak suka dengan budaya Jawa yang bahwa wanita setelah menikah adalah sepenuhya milik suaminya, jiwa, dan raganya.

Saya baru pertama kali membaca karya mas Pram, saya terbuai dengan alur ceritanya, bahkan saya tergila-gila dengan gaya bahasa dan pilihan katanya. Terkadang berlebih-lebihan, tapi keluasan penjabaran yang berlebihan itulah yang terkadang juga membuat saya terkagum. Bisa dilihat pula dalam ulasan saya ini, bahasanya, sudah banyak terpengaruh olehnya. 

Hari ini adalah harinya mas Pram, ketika muncul doodle di Google, saya langsung klik dan terbuka beberapa link mengenai beliau. Yang pertama, tentu saja dari Wikipedia. Dari sana baru saya tau, banyak sekali penghargaan yang beliau raih, dan rentetan sejarah panjang keluar masuk penjara dan beberapa karyanya yang dibakar para tentara. Saya juga baru tahu bahwa nama asli beliau adalah Pramoedya Ananta Mastoer, namun kata ‘Mas’ dihilangkannya, karena ‘mas’ mencirikan Jawa. (menurut yang saya baca di wikipedia).

Saya baru ingat, bahwa ketika awal membaca buku ini, seorang teman katakan “Kamu baca ini? Aku dulu mau baca tapi tak boleh orang tuaku” Saya belum ngeh waktu itu kenapa, sekarang sudah sedikit-sedikit.

Sebenarnya meski terbuai dengan tulisannya, memang ada beberapa yang tidak saya setujui. Berlawanan dengan apa yang saya yakini, sebagai Islam, dan sebagai Jawa. Tapi karya tetaplah karya, dan saya menikmatinya sebagai karya sastra. Tokoh utama Minke, orang yang keras kepala, namun berpendirian kuat. Ia juga cerdas, penulis yang gilang gemilang dalam karirnya. Yang paling membuat saya trenyuh dalah hubungan si Tokoh Utama dengan sang Bunda. Jawa asli. Yang selalu menasehati tokoh utama dengan sangat lembut, tak pernah marah, selalu penuh restu, selalu mengampuni bahkan sebelum tokoh utama meminta ampun dari Sang Bunda. Sang Bunda mengharap agar tokoh utama bangga menjadi Jawa. Mau menulis Jawa agar sang Bunda dapat mengerti tulisannya, menuruni tradisi-tradisi Jawa dari nenek moyang. Meski tokoh utama tak pernah mau, malu menulis melayu, tak mau menulis Jawa. 

Dalam busana Belanda ia bangga, dalam baju jawa dan kaki hanya bercakar, ia malu. Ia terus mencari kebanggan dalam baju belanda. Ibu nya tak marah, termasuk ketika ia menikahi Ann (Indo, cerita panjangnya dengan Minke di jabarkan pada Bumi Manusia- kemudian Ann meninggal, dalam buku Jejak Langkah), termasuk pula ketika ia mengambil Mei - wanita tiong hoa - sebagai istri, meski sang Bunda sangat berharap anaknya mengambill istri Wanita Jawa keturunan Priyayi, tapi Bunda selalu mengampuni. Bunda selalu menyayangi dan mengasihi, mendukung semua pilihan Minke. Bunda mengunjungi Minke ketika masih di Wonokromo, mengunjungi pula ketika Minke di Betawi. Meski Minke tak pernah memberi kabar. Hubungan Minke dengan ayahanda juga disajikan teramat sentimentil. Ayahanda Minke murka kepada Minke yang dianggapnya pembangkang.

Ini adalah buku tetralogi, belum benar kiranya bila saya tuliskan ulasan panjang lebar sementara buku juga belum juga selesai saya baca. Saat membacanya saya serasa diajak ikut menjadi Minke, yang pelan-pelan dengan banyak kejadian, banyak pelajaran mulai mengenal bangsa sendiri, dan kelanjutannya bagaimana, entah, saya belum tahu. Saya rasa, sampai saat ini saya masih menikmati ceritanya. Semoga semakin seru, harapan saya sih, Minke mulai memperjuangkan sebangsanya. 

Ini buku sastra lama yang saya baca, karena penasaran. Teenlit? Hanya jaman SMP. SMA sudah bosan, tak mau lagi. Ceritanya mengambang disitu-situ saja. Cinta dan cinta saja. Puisi? Sesekali. Buku yang saya baca? Mungkin sebatas tere-liye. Meski beberapa pendapatnya juga kadang saya kurang setuju. Tapi nasihatnya bagus-bagus dan halus. Kalau baca buku mas Pram, seperti disambar-sambar petir. Selain karya mas Pram, yang pernah saya baca adalah karangan Taufik Ismail, sudah lama, waktu SMA. Sulit rasanya mencari buku-buku seperti itu sekarang. Puisi? Sapardi Djoko Damono.

Oh ya, entah kenapa saya suka sekali buku-buku roman, sejarah atau karya sastra semacam itu, kalau mau memberi saya hadiah, belikan buku saja yang berbau sejarah. Fiksi sejarah atau semacamnya. Entah mulai kapan, masa lalu lebih menarik buat saya ketimbang masa depan, duh, apa ini salah satu penyebabnya saya susah move-on? T.T

Mengapa begitu mencintai masa lalu? Buku yang dibaca latarnya lebih suka jaman dulu, film juga sukanya film kolosal, bahkan naik kereta juga, sukanya ambil tempat duduk yang mundur T.T Oke #abaikan alinea terakhir ini.

You Might Also Like

0 comments

mari meninggalkan jejak :)

Instagram

Subscribe