Tentang Perempuan

Kamis, Januari 26, 2017



Ya, kita adalah wanita. Tapi kita tetaplah individu. Manusia. Punya hati, perasaan, pemikiran sendiri. Kita berhak mendapat pendidikan yang baik, pengetahuan yang luas, dan memberi manfaat untuk sesama, bukan cuma melulu dipersalahkan kalau dapur dirumah tidak mengepul. Kita bukan object, kita bukan benda, ladies. Saya paling tidak suka dengan ungkapan atau diluar sana, atau omongan-omongan orang yang menggunakan kosa kata ‘object’ pada seorang wanita.

Beberapa waktu lalu, saat saya berkunjung ke Tangerang, kami disapa oleh seorang mahasiswi yang kelihatannya sedang melakukan survei untuk untuk beberapa issue yang diangkat dari Unicef. Well, sekitar ada empat issue disana. Wanita kerap jadi korban sexual harassment, sesuatu yang amat mengerikan.  Yang lebih mengerikan lagi adalah jika terjadi victim-blaming. Saya jadi teringat sebuah tulisan dari tumblr, tentang kasus korban perkosaan oleh 4 karyawan bus trans jakarta, sempat booming sekali waktu itu (jika anda mengingatnya). Ulasan ada pada link berikut ini http://kartikajahja.tumblr.com/post/91041756653/benar-tak-selalu-menang-kisah-perjuangan-berat

“Sudah tau gampang sakit, kenapa naik kendaraan umum sendirian? Kenapa ga ditemani?” tanya pengacara terdakwa
 “Saudari kan orang Aceh. Berarti muslim ya. Apa boleh seorang wanita muslim pakaiannya seperti itu?” Kata pengacara lainnya lagi.
 “Saudari kan orang berpendidikan ya? Kok orang berpendidikan kerja pakai celana pendek?” tanya pengacara terdakwa lainnya. Dijawab YF bahwa hari itu ia pakai celana SELUTUT karena banjir. Tapi ia bawa celana panjang di tasnya. Itu sudah ada di BAP.
“Benarkah saudari saat itu sedang hamil dari laki-laki yang bukan suami saudari?” pertanyaan ini aneh sekali, sebab jelas-jelas YF tidak sedang hamil. Pun apabila seorang korban perkosaan sedang hamil, apa itu memberi pembenaran bagi pelakunya untuk memperkosa dia?
Yang paling membuat saya geram adalah ketika salah satu pengacara itu meminta YF mengenakan celana pendek yang ia pakai di hari kejadian. “Saya mau lihat, seberapa pendek celana itu di kaki kamu.” Kebetulan celana dan baju YF dijadikan barang bukti karena ada noda sperma di pakaian tersebut. Permintaan absurd ini ditolak hakim. Bagaimana dengan jaksa? Jaksa diam saja. Saat terdakwa diizinkan untuk bertanya langsung kepada YF pun jaksa tidak mengajukan keberatan.

Mengingat kembali diskusi saya dengan miss Fibria, salah satu teman baik saya. Sayang sekali rasanya jika hanya tertahan pada isi otak kami berdua, mulai sekarang mungkin bisa saya bagi pelan-pelan melihat banyak sekali case yang kami temukan. Meski saya dan miss jelas-jelas memiliki pandangan yang berbeda, tapi kami saling menghargai. Miss sangat menjunjung tinggi equality, gender equality. Sedangkan saya tidak. Lelaki dan perempuan itu memang harus berbeda. Tapi perbedaan yang saya maksud tidak kemudian menjadikan wanita lebih rendah derajatnya atau sebaliknya. Tidak. 

Saya mendukung wanita untuk dapat mandiri dan pandai menjaga diri. Dalam segala hal, termasuk finansial. Hidup harus realistis, tidak dapat diasumsikan seperti cerita putri di negeri dongeng. Ketemu pangeran. Menikah. Bahagia selamanya. Selesai.

Setiap individu sebaiknya mandiri dan memiliki management resiko yang baik. Katakanlah dia sangat yakin terhadap pasangannya, tapi ini juga perlu didukung dengan perencanaan kedepan. Setiap kemungkinan harus diperhitungkan. (From Alpa Girls's Guide)

Saya mendukung setiap wanita untuk dapat menjadi wanita yang independen. Tidak tergantung pada laki-laki. Bisa mandiri dan menjalani kehidupan sendiri. Berapa banyak wanita yang bertahan disakiti, dipermainkan, dipukuli, dihina, karna sudah terlalu menggantungkan kehidupan pada si lelaki. Kalau pisah, saya mau makan apa? Anak-anak sekolahnya gimana? Mau dikasih makan apa? Ahh, klasik. 

Kita memang harus positive thinking tapi bukan berarti kita abai terharap segala kemungkinan yang bisa terjadi. Bahkan ayah saya selalu bilang : Nak, kamu harus mandiri. Jangan bergantung pada orang lain. Jangan pernah menggantungkan kehidupan pada orang lain. Kalau kamu jatuh, kamu harus bisa berdiri sendiri. Kalau orang itu hilang, kamu masih bisa berdiri. Kamu harus jadi anak yang kuat.

Mungkin tulisan ini tidak sepadan dengan judulnya, karena sungguh, soal perempuan tidak mungkin cuma bisa dijabarkan dalam selembar tulisan, berbuku-buku pun rasanya belum cukup. Dan dalam tulisan ini saya hanya membahas secuil : kemandirian yang layak dimiliki oleh setiap individu. 


You Might Also Like

0 comments

mari meninggalkan jejak :)

Instagram

Subscribe