Deactive Account

Selasa, Desember 20, 2016

Tuisan ini saya buat setelah saya memutuskan untuk men-deactive akun facebook saya untuk sementara, dan belum tau akan sampai kapan karena saya rasa tulisan-tulisan saya di facebook sudah mulai rusuh sekali, lebih banyak mudharatnya dari pada manfaatnya. Tidak seperti dulu lagi mungkin, ketika waktu kuliah banyak digunakan untuk sharing materi, share tugas2, pengumuman, diskusi kelompok dan lain-lain, sekarang sudah lebih banyak berpindah ke WA.


Mungkin facebook menjadi akun pertama yang saya deactive, bukan karena facebooknya, tapi penggunanya. Mungkin kalau aktif lagi saya harus filter lingkaran pertemanan saya, jujur banyak yang tidak saya kenal. Akun lain mungkin saya deactive, tapi tidak pernah untuk tulisan-tulisan panjang saya di blog ini dan mylovelycode.wordpress.com yang saya rasa banyak kenangan dan banyak manfaat bagi saya, dan orang lain yang mungkin membacanya.

Saya suka facebook dan berbagai fitur didalamnya, banyak kemudahan yang saya dapatkan dan banyak pula kontak teman lama di facebook yang tidak saya miliki di whatsapp, bbm atau akun social media lain. Pun memberi privilege pada kita sebagai pemilik account untuk menentukan apa saja yang mau kita baca, tinggal unfollow, hide from timeline, hingga block user. Soal privacy pun, misal kita tidak ingin orang tertentu membaca, bisa kita tambah di setiap status kita, sifatnya public, hanya teman atau mau diperlihatkan pada beberapa orang saja atau mau di hide dari orang-prang tertentu, bisa. Sharing artikel juga mudah, pernah like pages? Ga heran kalau ikan-iklan jadi bertebaran. Facebook termasuk app yang memonitor behavior penggunanya, apa yang pernah dikunjungi, apa yang disukai, apa yang diinginkan, semuanya. Simpan bacaan bisa, termasuk salah satu media simpan file dan foto juga, bisa.

Tapi, bahkan dengan segala kemudahan dan keleluasaan yang facebook berikan, saya putuskan deactive account. Karena, jujur saja, semalam adalah kali kedua saya meluapkan emosi di facebook. Entah sejak kapan saya merasa facebook adalah tempat meluapkan emosi, kalau saya lagi suntuk, sebel atau marah, sudah 2 kali saya meluapkannya di akun media social saya itu. Dua kali. Dan saya rasa cukup.

Sejak kapan saya membenarkan diri saya untuk meluapkan emosi di timeline facebook, tulisan yang bisa dibaca ribuan orang? Sejak kapan saya merasa facebook adalah tmpat meluapkan emosi? Sejak kapan kalau saya marah itu kayak "tulis di facebook sajalah" Sejak kapan?

Lalu saya baca-baca lagi, saya telaah lagi, bagaimana akhir-akhir ini facebook menjadi media yang paling santer dan gampang sekali digunakan untuk menyebarkan kebencian, kemarahan, emosi, nyinyir, beita bohong, berita menghasut dan berbagai hal lain yang entah benar entah salah, sama saja menggiring opini, kebanyakan menyindir, menyalahkan, meremehkan, menrendahkan, letupan – letupan emosi silih berganti nangkring di postingan sana – sini, menyalahkan yang lain dan membenarkan diri sendiri.

Saya merasa, bahwa hal ini secara tidak langsung mempengaruhi saya, membuat saya merasa ya seperti itulah timeline facebook, tempatnya luapan emosi yang kamu gak bisa luapkan di dunia nyata dan membuat saya membenarkan bahwa kalau mau marah ya ke facebook. Saya pikir, bisa jadi itu salah satu penyebabnya. Karena sudah terbiasa, dan biasa sekali melihat ujaran-ujaran kemarahan orang-orang. Si A juga gitu, gapapa. Ahh, si B kan biasanya juga gitu dan lain lain.

Kali ini saya merasa sudah melakukan suatu hal yang salah dan oleh karena itu, saya ingin sejenak istirahat dari akun-akun social media yang isinya baper semua macam facebook. Email, WA, IG, dan blog ini akan terus tetap jalan sementara saya introspeksi diri, mengapa saya bisa sampai begini. 

Dan pada keputusan saya ini, rasanya seperti saya kalah dalam menghadapi sebatas akun social media. Ahh, kalah, lucu sekali. Teguran kali ya? Dulu saya pernah nyindir teman saya ketika dia deactive facebook karena banyak tulisan-tulisan tidak berimbang dan kebencian sana sini, lalu saya bilang "ya kan bisa kamu filter apa yang mau kamu liat, ngapain sampai deactive?" dan saya sindir lagi pas dia balik aktivin facebooknya (padahal cuma becanda aja). Dan pada kenyataanya, habis itu  dia aktifin faceboo lagi dan eh.. malah dia juga ikut sebar-sebar kenyinyiran juga.

Lalu saya sendiri yang malah ternyata deactive akun juga sampai waktu yang belum ditentukan, artinya saya kalah juga. Haha, meski tidak ada kaitannya sama sekali dengan content bermacam-macam di facebook entah yang lagi viral atau apa, saya bisa menahan diri untuk tidak berkomentar, tidak menyebarkan berita yang belum tentu kebenarannya, tidak juga menebar-nebar masalah yang tidak ada habisnya. Namun rupanya, tulisan negatif berdampak terhadap apa yang saya alami, bukan berkomentar atau share kontent negatif sih, hanya saja saya jadi menuntaskan amarah disana, hanya "emosi" masalah pribadi yang sebenarnya tidak pada tempatnya. Wong yang dimaksud juga tidak berteman di fb, mana dia baca? Tapi justru ini yang makin menjadikan pembenaran "kan dia ga ada di fb, jadi aman aja kalau mau marah-marah semaunya?!" Gamau bertengkar, tapi malah meluapkan emosi sembarangan. Oke, saya salah. Sekali lagi saya menyesal.

Sudah begitu, pertanyaan saya balikkan pada diri saya sendiri "mengapa tidak difilter saja tulisan-tulisan yang ada di timeline sendiri? Menahan untuk tidak ikut-ikutan berkomentar ini itu mungkin bisa, tapi untuk hal yang seperti ini? Yang ikutan meluapkan emosi meski sebenarnya masalah pribadi? Akhirnya juga tidak bisa juga dihindari" Saya jadi teringat sebuah pepatah "you are what you eat" Bukan hanya soal makanan, tapi apa yang kamu lihat, kamu baca, kamu dengar, perlakuan yang kamu dapatkan, lingkungan tempat kamu tinggal juga ikut mempengaruhi kamu. Maka, semoga ini menjadi pembelajaran bagi saya untuk lebih mengenali diri saya. Bahwa saya ini ternyata orang yang udah terpengaruh, jadi saya harus pandai-pandai memilih lingkungan dan pergaulan yang baik untuk diri saya, atau, sendirian saja seperti biasanya.

Baiklah, in the end, semoga keputusan ini membawa pengaruh lebih baik pada saya dan semoga bisa activate akun lagi dalam waktu dekat. Semoga saya bisa introspeksi diri menjadi lebih baik. Aamiin.

You Might Also Like

0 comments

mari meninggalkan jejak :)

Instagram

Subscribe