Kasar

Selasa, Juli 30, 2013

Hari ini seelooo (senggang - efek ngantor mruput dan coding pagi2 sekali) dan ditengah selo nya hari ini .. saya sedikit mau bercerita, emm, engga juga.. lebih ingin ke berpendapat, yang ujung2nya mungkin jadi curhat.,. hyaduuhh..

Saya mau agak curhat mengenai mereka yang perkataanya kasar, tidak salah, hanya kasar.

Iya, itu menyakiti hati saya. Mau bilang saya cengeng ? Untuk yang satu ini, iya, saya cengeng.

Ini itu, yang kadang2 jadi perdebatan diantara teman-teman saya. Memang yang dikategorikan kasar itu relatif, dan RELATIF itu RELATIF juga ya, catet :D

Sebuah kata itu terasa kasar tergantung yang mengucapkan, juga dari artinya, penggunaan bahasanya, bisa juga dari kebiasaan lingkungan. Misal "mata-mu" kalo bahasa indonesia kan lumrah, tp klo orang lagi ngomong jawa dan pakek kata "mata-mu"  itu udah dianggap kasar, harusnya yang ngoko itu "mripat" atau yang halus dan sopan itu "paningal". Nah, bahasa Jawa, bahasa yang selalu saya suka, bahasa kromo nya maksud saya, untuk bahasa kasar nya tidak. 

(Papan, Empan, Adepan. salah satu pepatah jawa yang artinya bahwa ketika bersikap berbicara supaya memperhatikan tempat, situasi (papan) dimana seorang berada, memperhatikan isi (empan) dan memperhatikan siapa yang dihadapi (adepan).


Balik ke curhatan awal. Setiap orang itu ada yang mendefinisikan perkatakaan kasar itu beda2, misalnya :

buat yang belum tau artinya, ini dari wikipedia nya : "janc*k" ialah kata kurang ajar yang sering dipakai seperti "f*ck" dalam bahasa Inggris; merupakan singkatan dari bentuk pasif "dianc*k"; variasi yang lebih kasar ialah "mbokmu goblok, makmu kiper, dengkulmu sempal, matamu soak"; oleh anak muda sering dipakai sebagai bumbu percakapan marah

***
ya dia termasuk orang yg keras kepala
lalu apa alasan dia ngomong / misuh2 / ngomong kata2 itu ?
lalu gmn misal pas ada pengajian atau siapa gtu di acara resmi, lg nyeritain lelucon trus ketawa sambil bilang "as*'i lucu tenan, b***ng*n og"
lalu apa semua orang / kebanyakan nyaman mendengar kata2 itu ?
***

biar bagaimanapun , dengan pendapat apapun, bagaimanapun bentuk pengucapan, dengan maksud apapun, kosakata ini termasuk kasar bagi saya dan saya tidak suka. Dan untuk menyebutkan nama hewan seperti itu, kembali lagi, uniknya bahasa, mereka memiliki tingkatan dalam pemakaiannya.

saru iku kasar tur kleru, yen muk kasar angger bener iku rapopo.

Saya juga tidak bisa setuju dengan yang satu ini, dengan adanya kalimat itu saya rasa tidak kemudian membenarkan kamu untuk menggunakan kosakata seperti "nd*se, ut*kke, dengk*lmu, dll" pada orang lain. Itu kasar. 

Saya bukannya tidak terbiasa, saya terbiasa, terbiasa sekali, pada ucapan kasar. Tapi tidak sampai seperti yang dikategorikan "misuh/mengumpat" hanya sebatas ucapan yang diucapkan dengan nada tinggi sepeti membentak, marah sehingga pada saya itu adalah ucapan yang kasar. Sejak kecil , saya dengar yang seperti itu hampir setiap hari. Ayah saya itu, Jawa Tengahnya perbatasan jawa timur, dan berapa lama tinggal di suatu daerah d Jawa Timur yang telah terbiasa dengan ucapan kasar, disana terdengar biasa.

Dengan terbiasa mendengar ucapan kasar, bukan lantas saya ikut berucap kasar. Untuk yang seperti ini , ada semacam rasa agak "trauma" atau istilahnya apa saya kurang paham.

Banyak orang yang biasa karna terbiasa, saya juga, dan untuk yang satu ini, bukan ikut terbiasa kasar, tapi terbiasa takut dan merasakan sakit.

Saya juga sudah sampaikan beberapa kali pada teman, bahwa saya ini tidak tahan dengan perkataan maupun tindakan kasar, bagaimanapun keadaannya, dengan alasan apapun dan untuk hal apapun, demi apapun dan pada kondisi bagaimanapun,, saya tidak mau dikasari.

Sama-sama membiasakan, kenapa tidak membiasakan berucap halus, mengapa saya yang harus membiasakan untuk mendengar ucapan kasar ?

Sama-sama berucap, sama-sama ngomong, sama-nulis, sama-sama bertindak, kenapa tidak dengan lebih halus saja ? Bukankah itu lebih baik, dari pada mempertahankan kebiasaan kasar yang ujungnya menyakiti orang lain. Terserah saja bila mau berkata saya cengeng, lemah. Setidaknya pada saya, kurangi bicara kasarnya. 

Tidak, saya tidak mau membiasakan untuk mendengarkan perkataan yang kasar.


You Might Also Like

1 comments

mari meninggalkan jejak :)

Instagram

Subscribe