"Becik Ketitik Ala Ketara"

Senin, Maret 04, 2013

Hmm, mau dimulai darimana ya? Bingung juga mau ngeluarin unek-unek dalam hati.
Jum'at lalu, 1 Maret 2013, saya pulang kampung. Waktu itu malam hari, saya dan teman saya, mengendarai sepeda motor dari Jogja jam setengah 7 malam, kami singgah di Solo untuk membelikan adik bungsu saya sebuah Pianika, sambil nyari makan. Sampai Sragen waktu itu sekitar jam 10 malam, tapi saya tidak langsung pulang. Saya kerumah Simbah saya, atau lebih tepatnya adik dari simbah saya, alias Mbah-Lik saya :)

Ya, disana memang sedang ada acara, sejak dua bulan lalu rumah simbah saya itu selalu ramai tiap hari. Dan seminggu terakhir, katanya selalu standby 24 jam untuk menjaga simbah saya. Emm, jadi bertanya2 mengapa ya? Jadi, simbah saya ini, sedang maju untuk mencalonkan diri sebagai Kepala Desa, untuk periode kedua. Dan, yang namanya desa, masih primitf seperti ini, tentu saja ada macam-macam hal yang.. yah,, mesthi bilang apa ya,, berbau mistis lah, banyak yang mencoba mendatangkan berbagai kiriman (mistis-negatif) ke rumah simbah saya, macam2, tak perlu saya sebutkan. Ya, maklum, mungkin rival simbah saya takut dan kemudian menghalalkan berbagai cara :D Termasuk yang bisa dibilang ilmu ~blablabla~ gak tau namanya :D Sehingga yang jaga juga para ksatria2 asad, bahkan nyampe bolo pendem dari mulungan :O

Malam itu ramai sekali, saya tiba disana jam 10 malam, sekedar menyapa saudara-saudara, sungkem sama Ibu saya yang kebetulsan ikut rewang sejak 2 minggu yang lalu, dan beberapa kawan lama, hampir satu desa itu berkumpul disitu, bahkan, malah ada yang datang dari desa-desa lain :D Jam 12 saya pamit pulang, karna kondisi badan ini memang sudah lelah sekali, saya baru tiba dari Jogja.

Sabtu pagi, tiba waktu pemilihan. Saya baru melihat pemilihan lurah satu kali ini dan baru tau pula kalau acaranya seramai ini.Wah.wah, bahkan lebih ramai dari pemilihan presiden,, hahaha :D katanya tante sih, ini kan karena Kepala Desa itu yang langsung memimpin para warga, jadi antusiasme warga sangat tinggi, nggak cuma dari kelurahan tempat Simbah saya, dari kelurahan lain juga buanyaak, termasuk para tetangga desa saya, padahal sudah beda kelurahan, hhe. Jelas ya, saya ga bisa ikut nyoblos :D NIh, crowdednya :


dan itu tuh udah bener2 kayak pasar cing!!! yang jualan minuman, makanan, mainan ampe pakaian! Gilak, kayak pasar malem aja! Wow, dan ini katanya tante sih belum seberapa, biasanya motor ga bisa masuk lapangan kaya gitu -______- Yabusyehhh.. hmm.. 

Lanjut ceritanya, waku itu saya, ibu saya dan beberapa saudara menyaksikan perhitungan suara, tapi beberapa menit saya didepan, terus melipir ke balakang, hhe, sumpek, panas. Dan dibelakang ketemu om didik, ya, ngobrol2 biasa, sama nyampein salam dari Om saya yang d Jogja, yang ga bisa pulang. Emm, lanjut, sitem pemilihannya ga nyoblos, tapi pake koin, dan dimasukin ke kotaknya siapa gitu. Pas dibongkar kotaknya, yaa, udah kelihatan lah -_- Yang menang partai no.1. Yang mendukung bersorak gembira, sedangkan yang kalah terdiam, melongo, kecewa, sedih, lemas bahkan ada yang mberebes sampai nangis.

Tapi sejatinya, dalam hati semua orang pasti sudah menang. Cepat-cepat saya pulang kerumah Simbah, masih ada foto simbah yang terpajang di depan rumah, simbah yang masih kelihatan tampan dan gagah. Tapi miris karna dia sendiri juga yang harus melepasi satu persatu fotonya :(

Hahaha, banyak yang menyayangkan memang, termasuk simbah putri dan tante saya yang masih berduka saat itu. Ya, mau bagaimana lagi. Sedikit berbagi saja, susah mengubah tradisi di Desa ini, yang mana bahwa dia yang paling banyak melempar uang adalah yang akan menang :) Kalo diturut, sebenarnya simbah saya lebih banyak pendukungnya, simbah sudah menjabat satu periode memang sangat disayangi warganya. Saya juga ndak kalah sayang hloh eyang :) Namun, mungkin memang rivalnya termasuk berat. Ahh, bukan, bukan rivalnya, tapi backupnya. Yah, yang katanya pejabat tinggi, yang katanya komisi X, yang katanya sangat berkuasa. Tapi yang dicalonkan itu, pendidikan jauh, wibawa, kharisma, dan reputasinya sebagai preman -atau 'gali' dalam istilah jawa ndesa-, yang mabuk2an, yang suka main perempuan, Ya Allah MasyaAllah, mau jadi apa nanti? Dan memang dengan backupnya sebagai pejabat, yang terbilang kuat dan berkuasa, dan ber-uang. Malu dong kalau sampai kalah, soalnya pada pemilihan itu banyak pejabat2 tinggi yang datang memberi dukungan atau sekedar menyaksikan, jadi menghalalkan berbagai cara, hmm, lebay.

Gila juga, kader2 simbah juga diserang, dilempari jutaan rupiah. Supaya beralih memihaknya. dan yang paling gila adalah istilahnya dengan 'membeli' sebuah desa. Desa yang banyak pendukung simbah, dilempari dengan yang namanya uang satu persatu dengan nominal yang bukan main untuk ukuran pemilihan kepala desa, satu rumah bisa sampai dapat jutaan. Meskipun desa itu adalah mayoritas saudara simbah, tapi apadaya, saudara itu orangnya, kalo uangnya ya tidak mengenal yang namanya saudara. -miris- tapi saya juga tidak menyalahkan mereka, maklum saja, didesa kecil yang pendapatannya pun kecil, dengan uang sekian merupakan nominal yg sangat besar bagi mereka -bahkan saya. Dan akhirnya berbalik pihak, namun lebih banyak yang memilih untuk tidak memilih.

Prihatin. Mereka hanya memilih kesenangan sesaat dibandingkan masa depan mereka lima tahun kedepan. Apakah tak ada lagi yang bisa dilakukan untuk ini? Ironisnya adalah, bahwa itu semua dilakukan secara terang2an, semua orang tau,, aparat, keamanan bahkan petugasnya pun tau, lalu dimana letak kebenaran? yang katanya selalu dicari-cari, sedangkan ketika didepan mata, begitu saja diabaikan. karena uang? uang yang katanya bukan segalanya, tapi segalanya memang butuh uang, Sayang,  Dimana letak keadilan? yang katanya selalu ditelusuri, namun ketika melihat yang jelas kecurangan malah dibiarkan. Ironis sekali keadaan ini, kalau dari yang tingkat paling bawah saja begini? Lalu apa yang bisa dilakukan, saya tidak mungkin malah mencaci apalagi memaki. Saya selalu berdo'a yang terbaik untuk keadaan ini. Semoga mereka yang menyimpang dari jalanmu, diberi hidayah agar mereka sadar dan kembali ke Jalan Tuhan.

Tapi begitu saya lihat wajah eyang kakung saya, terpancar kesabaran, ketabahan dan keteguhan tiada tara. Saat itu, hanya satu kalimat yang diucapkannya :
"Becik Ketitik Ala Ketara" ~ perbuatan baik atau buruk pada akhirnya akan ketahuan juga
Emas di lumpur betapa pun tetap bernilai tinggi. Sebaliknya besi berkarat betapa pun di bungkus sutera indah tetap rendah nilainya.

Begitulah simbah saya, penuh kesabaran, penuh ketabahan dan setia dalam keteguhan, disaat yang lain mungkin menagis, bersedih dan kecewa, simbah masih bisa tersenyum, toh itu hanya urusan dunia katanya. Desa ini telah menentukan pilihannya, jika memang tak mau dituntun menjadi lebih baik, ya silahkan saja ikuti apa yang telah mereka pilih lima tahun kedepan. Eyang yakin, yang baik akan terlihat, dan yang buruk juga akan ketahuan :)

Subhanallah, saya memang harus banyak belajar pada simbah dan ayah saya, saya kagum sekali sama mereka, terutama pada pengetahuan mereka tentang kebudayaan jawanya yang selalu menarik, memukau dan memikat hati saya. Mulai dari pepatah, guritan (puisi), cerita pewayangan dan tembang-tembangnya yang memiliki makna begitu dalam serta menjunjung tinggi tata krama dan nilai-nilai keluhuran. Selalu membuat saya jatuh hati dan selalu ingin mendalami :)

You Might Also Like

0 comments

mari meninggalkan jejak :)

Instagram

Subscribe